Jumat, 19 Oktober 2012

OSIS dan Kepemimpinan


Apa itu OSIS. . .??
- Sebelum tahun 1970
Organisasi dari bentuk :
1. Kalangan Intern sekolah
2. Luar sekolah / dari organisai politik
- Tahun 1970 – 1972
Adanya kesadaran :
1. Semangat belajar mengajar di sekolah ingin menjadi lebih baik
2. Pemimpin organisasi siswa, pentingnya belajar di sekolah
3. Untuk menghindari perpecahan diantara para siswa

SEPAKAT MENDIRIKAN OSIS
Tap MPR No.IV / MPR / 1978
KEP MENDIKBUD No. 323 / u / 1978

Osis ditetapkan sebagai salah satu jalan / jalur pembinaan kesiswaan secara nasional.
- Meliputi
1. Organisasi kesiswaan
2. Latihan kepemimpinan siswa dan pembinan siswa
3. Ekstrakulikuler
Tujuan OSIS
1. Menghimpun ide, pemikiran, bakat, kreativitas, serta minat siswa.
2. Mendorong sikap, jiwa dan semangat kesatuan dan persatuan di antara siswa.
3. Tempat dan sarana berkomunikasi, menyampaikan pikiran dan gagasan, mematagkan kemampuan berfikir, wawasan dan pengambilan keputusan.

Pengertian dan Fungsi OSIS
- Organisasi : kelompok kerja antar siswa untuk mencapai tujuan bersama
- Siswa         : peserta didik pada satuan pendidikan
- Intra          : berada di dalam dan di antara
- Sekolah    : satuan pendidikan tempat menyelenggarakan KBM.

Pengertian secara organis
OSIS adalah satu-satunya wadah organisasi siswa yang sah.
Pengertian secara fungsional
OSIS merupakan salah satu dari 4 jalur.
Pengertian secara sistematik
- Ciri-cirinya :
a. Berorientasi pada tujuan
b. Memiliki susunan kehidupan kelompok
c. Memiliki sejumlah peranan
d. Berkoordinasi
e. Berkelanjutan dalam waktu tertentu

Fungsi OSIS
1. Wadah untuk menampung aspirasi
2. Pelaksana kegiatan siswa
3. Sarana komunikasi antar siswa
4. Wadah pengembanpotensi dari siswa
5. Pengemban pelatihan ketrampilan organisasi
6. Pembinaan, pengembangan dan pemberdayaan kecakapan hidup
7. Pembinaan, pengembangan dan pemberdayaan kader-kader bangsa





Manfaat OSIS
a. Meningkatkan ketaqwaan
b. Meningkatkan kesadaran berbangsa
c. Meningkatkan kepribadian dan budi luhur
d. Meningkatkat kemampuan berorganisasi
e. Meningkatkan ketrampilan
f. Meningakatkan kesehatan
g. Menghargai dan mewujudkan nilai-nilai
h. Mengembangkan kreasi seni

Faktor-faktor pendukung
1. Sumber daya
2. Efisiensi
3. Koordinasi kegiatan
4. Pembaharuan
5. Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan luar
6. Terpenuhi fungsi dn peran seluruh komponen

Tugas pengurus OSIS
1. Menyusun dan melaksanakan program kerja
2. Selalu menjunjung tinggi nama baik
3. Kepemimpinan OSIS bersifat kolektif
4. Menyampaikan laporan
5. Selalu berkonsultasi dengan pembina




- Rincian tugas pengurus OSIS
- Struktur Organisasi OSIS
a. MPO : Majelis Pembina Osis
-Terdiri dari
- Kepala sekolah / Wakil kepala sekolah

Proposal
Rancangan kerja yang disusun secara sistematis dan terinci untuk kegiatan yang ingin dilakukan.
-Bentuk Proposal
.Proposal rencana kegiatan
1. Usaha (Bisnis)
2. Organisasi
- Proposal penelitian . . .Skripsi, magang
- Proposal bantuan dana
Kerangka
.pendahuluan : - latar belakang
-dasar pemikiran
-tujuan
.rencana kegiatan : - jenis dan tema kegiatan
-target / sasaran kegiatan
-waktu dan tempat kegiatan Terlampir
-susunan kegiatan
.penutup



OSIS adalah
Suatu organisasi yang beranggotakan para siswa dalam suatu internal sekolah, yang melakukan kegiatan untuk meningkatkan kemajuan pendidikan di sekolah.
Pemimpin
Merupakan suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan anggota / orang-orang agar dapat berbuat / bekerja secara efektif dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengurus OSIS
Ujung tombak dan penggerak kegiatan yang berhubungan dengan siswa di sekolah.
Pemrakarsa dan pengendali kegiatan kesiswaan yang sudah di programkan oleh sekolah
Kelompok siswa yang terpilih sebagai tumpuan harapan dapat membantu melaksanakan program kegiatan yang telah disetujui oleh pihak sekolah
Simbol / gambaran eksistensi siswa pada sekolah yang bersangkutan.

HUBUNGAN KEPEMIMPINAN DAN PENGURUS OSIS
1. Sebagai kelompok yang akan mempengaruhi dan menggerakkan kegiatan, maka sangat dibutuhkan Skill kepemimpinan.
2. Agar program kegiatan dapat dijalankan secara efektif, terarah dan bertanggung jawab perlu pemimpin.
3. Tanpa ada kepemimpinan, program kegiatan di sekolah tidak bisa tercapai dengan baik.




SYARAT PEMIMPIN
a. Berkepribadian
Bersikap terpuji, rendah hati, percaya diri, ramah, memiliki kepekaan sosial.
b. Memiliki pemahaman
Mampu merumuskan, menginformasikan, dan menjabarkan secara benar tujuan yang akan di capai.
c. Berpengetahuan
Mempunyai wawasan yang luas untuk disampaika kepada anggotanya.

PRINSIP PEMIMPIN
.Konstruktif
Memiliki kemampuan untuk membuat perencanaan yang baik dan benar.
.Kreatif
Memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan mempunyai nilai guna.
.Partisipatif
Selalu ikut serta dalam segala kegiatan yang kegunaannya untuk kepentingan bersama.
.Kooperatif
Dapat di ajak bekerjasama dengan siapapun yang berguna bagi anggota yang dipimpinnya.







PRINSIP PEMIMPIN PANCASILA
1. Ing ngarso sung tulodho
2. Ing madya mangun karso
3. Tut wuri handayani
PERSONALITAS DALAM KEPEMIMPINAN
.Berkemampuan
Memelihara hubungan dengan baik dengan anggotanya, landasan saling bertanggungjawab.
.Berkepribadian
Watak dasar yang stabil dan diterima banyak pihak.




SIFAT YANG MENDUKUNG PEMIMPIN
- Bersahabat
- Antusias (respon, mengikuti)
- Percaya diri
- Periang
- Rendah hati
- Responsif
- Jujur
- Berani





PERILAKU PEMIMPIN
.Sifat Obyektif
(adil, tidak berat sebelah, tidak diskriminatif)
.Konseptualitas
(semua yang dijalankan direncanakan, diprogramkan)
.Antisipatif
(dapat memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi)
.Peduli
(ikhlas dalam membantu)
.Pengayom
(bisa mengayomi siswa yang lain)
WATAK PEMIMPIN
- Watak bulan (bisa menerangi di kegelapan)
- Watak matahari (bisa memberi sumber tenaga)
- Watak mendung (bisa melindungi dari kejahatan)
- Watak api (bisa memberi  semangat)
- Watak bumi (bisa menjadi tempat yang nyaman)
- Watak bintang (bisa percaya diri dalam memimpin)
- Watak angin (bisa memberi kesejukan)
- Watak samodra (bisa memberi keluasan yg lain)

Makalah Bahasa Indonesia Ejaan Yang Disempurnakan

BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang
Ejaan Adalah seperangkat aturan atau kaidah pelambang bunyi bahasa, pemisahan, penggabungan, dan penulisanya dalam suatu bahas. Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan katamengeja. Mengeja adalah kegiatan melafalakan huruf, suku kata, atau kata, sedangakan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman hidup, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan dalam bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ibarat sedang menyetir kendaraan, ejaan adalah rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi. Jika para pengemudi mematuhi rambu itu, terciptalah lalu lintas yang tertib, teratur, dan tidak semrawut. Seperti itulah kira – kira bentuk hubungan antara pemakai dengan ejaan.
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). EYD yang resmi mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972 ini memang upaya penyempurnaan ejaan yang sudah dipakai selam dua puluh lima tahun sebelumnya yang dikenal dengan nama Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada tahun itu diresmikan pada tahun 1947). Sebelum Ejaan Soewandi telah ada ejaan yang merupakan ejaan pertama Bahasa Indonesia yaitu Ejaan Van Ophuysen (nama seorang guru besar Belanda yang juga pemerhati bahasa) yang diberlakukan pada tahun 1901 oleh pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia pada masa itu. Ejaan Van Ophuysen tidak berlaku lagi pada tahun 1947.


Masalah
Pada masalah ini, kami akan menjelaskan bagaimana cara penggunaan tanda baca yang baik dan benar. Di sini kami menuliskan macam macam tanda baca beserta aturan letak penggunaan dan fungsi dari macam-macam tanda baca tersebut, sehingga kita bisa memahami bagaimana cara penggunaan tanda baca yang baik dan benar, karena dalam aturan penggunaan tanda baca, banyak sekali masalah masalah penulisan tanda baca yang kurang tepat sehingga terkadang sulit untuk memahami isi tentang tulisan yang ditulis dalam sebuah karya tulis.



Ruang Lingkup Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)


            Ruang lingkup EYD mencangkup lima aspek, yaitu:
1.Pemakaian Huruf
2.Penulisan Huruf
3. Penulisan Kata
4. Penulisan unsure serapan
5.  Pemakaian Tanda Baca
A . Pemakaian huruf membicarakan bagian-bagian dasar dari suatu bahasa, yaitu
1.Abjad                                                                                  
2. Pemenggalan
3. Vokal                                                                                 
4. Konsonan

B . Penulisan huruf membicarakan beberapa perubahan huruf dari ejaan sebelumnya yang meliputi
1. Huruf Kapital
2. Huruf Miring

D . Penulisan kata membicarakan bidang morfologi dengan segala bentuk dan jenisnya berupa
1. Kata Dasar
2. Kata Turunan
3.  Kata Ulang
4. Gabungan Kata
5.  Kata Ganti kau, ku, mu,dan  nya
6. Kata Depan di, ke, dan dari
7. Kata Sandang si dan sang
8. Partikel
9. Singkatan dan Akronim
10.Angka dan Lambang Bilangan

E . Penulisan unsur serapan membicarakan kaidah cara penulisan unsur serapan, terutama kosa kata yang berasal dari bahasa asing.

F . Pemakaian tanda baca (pungtuasi) membicarakan teknik penerapan kelima belas tanda baca dalam penulisan dengan kaidanya masing-masing
Di dalam hal ini, kita akan mempelajari ejaan yang nomor lima yaitu penggunaan tanda baca


Tujuan
Adapun tujuan yang ingin kami capai dari penulisan karya tulis ini adalah:
1. Dapat memahami fungsi dari macam-macam tanda baca yang ada
2. Dapat memahami tata cara dan letak dalam penggunaan tanda baca
3. Dapat membuat sebuah karya tulis dengan tanda baca yang baik dan benar
4. Dapat memahami dan mengembangkan tulisan dengan tanda baca yang baik dan benar


Manfaat
Dengan diselesaikanya makalah ini, kami dapat memberikan manfaat antara lain
1. Dapat menulis karya ilmiah dengan Ejaan tanda baca yang benar
2. Dapat menggunakan tanda baca yang sesuai dengan konteks kalimat yang ada
3. Dapat memahami penggunaan tanda baca untuk menulis sebuah karya ilmiah yang baik dan benar


BAB II
ISI


Pemakaian Tanda Baca
Dalam hal pembuatan karangan ilmiah, kesalahan huruf dan tanda baca sering muncul. Dan di dalam penulisan tanda baca sering sekali kita lalai dan melakukan kesalahan dalam penulisanya. Sehingga menjadikan karangan atau karya ilmiah kita menjadi sebuah karya yang kurang baik karena ada kesalahan dalam penulisanya. Dari berbagai kesalahan itu, sebenarnya para penulis karya ilmiah mampu untuk membuat tulaisanya, akan tetapi mereka sering lalai dan ceroboh dalam penggunaan tanda baca. Karena apa, tanda baca selalu di anggap sepele dalam penggunaanya sehingga kadang menjadikan kalimat itu menjadi rancu dan berbeda arti. Suatu contoh kita ambil kalimat “kucing makan tikus mati”. Dalam konteks kalimat ini jika tidak kita beri pemisah tanda baca maka akan menjadikanya sulit untuk dipahamai. Dari kalimat “kucing makan tikus mati” siapakah yang mati dalam konteks kalimat ini?, akan tetapi apabila kita ganti konteks kalimat ini dengan pemberian tanda baca seperti ini ”kucing makan, tikus mati”, siapakah yang mati dalam konteks kalimat ini?, kemudian apabila kita gunakan konteks kalimat ini ”kucing makan tikus, mati”, siapakah yang mati dalam konteks kalimat ini?. Kucing makan tikus mati adalah salah satu contoh kalimat yang banyak persepsi apabila kita salah menggunakan tanda bacanya. Oleh karena itu, pemakaian tanda baca dalam penyusunan kalimat sangat perlu untuk diperhatikan.

Macam-macam tanda baca
Tanda tanda baca yang dipakai dalam penuisan yaitu:
1. Tanda titik ( . )
2. Tanda koma ( , )
3. Tanda titik dua ( : )
4. Tanda Tanya ( ? )
5. Tanda seru (!)
6. Tanda kurung ( (…) )
7. Tanda petik ganda ( “…” )
8. Tanda garis miring ( / )






Fungsi tanda baca
Dari macam-macam tanda baca yang telah disebutkan tadi, masing masing tanda baca memiliki fungsi dan kegunaanya masing-masing.
Fungsi dari macam-macam tanda tersebut adalah:

Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:
Ayahku tinggal di Solo.
Biarlah mereka duduk di sana.
Dia menanyakan siapa yang akan datang.

2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Catatan:
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.

3.Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu.
Misalnya:
pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)

4.Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan jangka waktu.

Misalnya:
1.35.20 jam ( 1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)
5. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltervreden: Balai Poestaka.





Tanda Koma (,)
1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya:
Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat serata berikutnya yang didahului oleh kata sepertitetapi atau melainkan.
Misalnya:
Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

4. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya:
Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
Dia tahu bahwa soal itu penting.

5. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula,meskipun begitu, akan tetapi.
Misalnya:
... Oleh karena itu, kita harus hati-hati.
... Jadi, soalnya tidak semudah itu.

Tanda Titik Dua (:)
1. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
Ketua : Moch. Achyar
Sekretaris : Tati Suryati
Bendahara : Noviana Pertiwi

2. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara surah dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Misalnya:
(v) Tempo, I (34), 1971:7
(vi) Surah Yasin:9
(vii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
(viii) Marzuki dan Rudy W. 2006. Pembuatan Aneka Kerupuk. Jakarta: Penebar Swadaya.

3. Titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ayah : “Karyo, sini kamu!”
Karyo : (datang menghampiri) “Ada apa, Pak?”
Ayah : “Tolong ambilkan sepatu hitam yang di atas lemari!”

4. Titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya:
Pak Adi mempunyai tiga orang anak: Ardi, Aldi, dan Asdi.
Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

Tanda Tanya (?)
1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya:
Kapan ia berangkat?
Saudara tahu, bukan?
2. Tanda tanya dipakai di dalam kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan kebenarannya.
Misalnya:
Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?).
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

Tanda Seru (!)
1. Tanda seru dipakai pada akhir kalimat printah.
Misalnya:
Bersihkan kamar itu sekarang juga!
Jangan berisik!
2. Tanda seru dipakai pada akhir ungkapan atau pernyataan yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ketakjuban, ataupun rasa emosi yang kuat.
Misalnya:
Alangkah seramnya peristiwa itu!
Indah sekali pemandangan alam ini!
Merdeka!

Tanda Kurung ((...))
1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya:
Komisi A telah selesai menyusun GBPK (Garis-Garis Besar Program Kerja) dalam sidang pleno tersebut.
2. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Misalnya:
Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan perkembangan per-ekonomian Indonesia lima tahun terakhir.
3. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Misalnya:
Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.




Tanda Petik (“...”)
1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lainnya.
Misalnya:
“Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”
2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya:
Sajak “Berdiri Aku” terdaapat pada halaman 5 buku itu.
Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” diterbitkan dalam harian Tempo.
3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
Saat ini ia sedang tidak mempunyai pacar yang di kalangan remaja dikenal dengan “jomblo”.
Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.

Tanda Garis Miring (/)
1. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya:
No. 12/PK/2005
Jalan Kramat III/10
Masa Bakti 2005/2006
Tahun Ajaran 2006/2007

2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.
Misalnya:
Laki-laki/Perempuan
120 km/jam



BAB III
PENUTUP



Kesimpulan
1. Penggunaan tanda baca perlu diperhatikan dalam penulisan karya tulis atau karya ilmiah.
2.Masing masing tanda baca memiliki aturan dan tata letak penggunaanya, sehingga kita harus cermat dalam menggunakan tanda baca dan menempatkan tanda baca pada aturan yang telah di tetapkan
3. Penggunaan ejaan yang disempurnakan (E Y D) sangat dibutuhkan dalam penulisan karya tulis ilmiah agar sebuah karya tulis ilmiah tersebut dapat tersusun dengan baik dan mudah dipahami.
Dari berbagai macam kesimpulan, maka penggunaan tanda baca perlu untuk dipahami dan dipelajari lebih detail agar penggunaan tanda baca pada karya ilmiah yang kita buat menjadi benar dan mudah dipahami oleh orang-orang yang akan membaca karya tulis kita.


Penutup
            Dari tugas makalah tersebut, banyak hal yang dapat kita pelajari. Seperti halnya yang sudah kami harapkan dan sampaikan pada kata pengantar tugas makalah ini, yaitu semoga dengan terselesaikannya makalah ini dapat menambah wawasan kita dan pemahaman kita mengenai pengguanaan tanda baca yang baik dan benar yang tentu saja sesuai dengan EYD.
            Dan demikian makalah yang dapat kami buat. Apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati atau belum sesuai dengan apa yang Anda harapkan, kami mohon maaf. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun kami agar dalam tugas-tugas selanjutnya,kami dapat menyelesaikannya dengan lebih baik lagi.

Saran
Lebih baik mulai dari sekarang kita belajar membaca , namun tidak hanya membaca kita harus juga memperhatikan tanda baca titik, koma, tanya, titik dua, seru, kurung, petik ganda dan miring, itu semua harus kita perhatikan dalam membaca bacaan.




Daftar Pustaka


Sugihastuti, dkk. 2006. Editor Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
Finoza, Lamudin. 1993.Komposisi Bahasa Indonesia.Jakarta: Diksi Insan Mulia,.
Alwi, Hasan. Dkk. 2003, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi-2. Jakarta: Balai Pustaka.

Beberapa Aliran Seni Dunia

A. NATUARLISME
Tokoh :
- Nusantara : Abdullah Surya Subroto, Basuku abdullah, Wahdi sumanta dll.
- Mancanegara : Rembrant, William hogart, Frans hall.
B. ROMANTISME (1818)
Tokoh :
- Nusantara : Raden saleh, Syarif bustaman.
- Mancanegara : Theodore gerisault, Elegene dela corix, David Frendrich caspar.
C. IMPRESIONISME/Realisme Cahaya/Light Panting (1874)
Tokoh :
- Nusantara : -
- Mancanegara : Claude moneta, aguste renoir, edgar degas, Camille Pissano, Paul ce zarne.
D. EXPRESIONISME
Tokoh :
- Nusantara : Affandi, Popo iskandar, Djoko pekik, Zaini.
- Mancanegara : Ernst barlach, Max backman, Vassily, Kandinsky.
E. FAUFISME (1900 - an)
Tokoh :
- Nusantara : -
- Mancanegara : Henri matisie, Andre derain, George rovavlt, Mavirce de Vlaminck.
F. KUBISME (1907)
Tokoh :
- Nusantara : Ries mulder, Sudjana kerton, Ida hadjar.
- Mancanegara : Paul cezame, Pabllo picaso, George biraque, Ferran leger, Juan gris, Davit smith.
G. FUTURISME
     Seniman futur berpandangan bahwa derajad kehidupan dapat dicapai melalui aktivitas. Tema yang mengandung kesibukan dan kesimpangan kesiuran diangkat kedalam bentuk kesan keindahan gerak yang dinamis.
Tokoh :
- Nusantara : Sijipto adi
- Mancanegara : Amberto baciono, Carlo carra, Gilo severini.
H. DADALISME (1916)
Istilah ini berasal dari bahasa anak-anak prancis yang artinya kuda mainan. Aliran ini mendukung surealisme karena, muncul dari alam bawah sadar. Sebagai proses tidak adanya polarisasi nilai baik atau buruk, sisial dan etika akibat perang dunia.
Hal ini menyebabkan karya dadlisme memiliki ciri sinis, konyol, menggambarkan benda, atau mesin sebagai manusia. Mengikuti kemauan sendiri dari sekian teknik yang digunakan.
Tokoh :
- Nusantara : -
- Mancanegara : Marchel dupcham, Jean hans asp, Trizhn zara.